Jokowi Fokus Kerja, Mereka Fokus Fitnah, Demikian Daftar Fitnah Mereka INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Jokowi Fokus Kerja, Mereka Fokus Fitnah, Demikian Daftar Fitnah Mereka

Jokowi Fokus Kerja, Mereka Fokus Fitnah, Demikian Daftar Fitnah Mereka

Ditulis Oleh redaksi Minggu, 30 Juli 2017 | 12.11

JAKARTA - INDEPNEWS.Com : “Silahkan hina diriku sepuas kalian, aku akan tetap diam saja. Bukannya aku tidak punya jawaban, tapi singa selalu tidak akan membalas gonggongan anjing.” (Imam Syafi’i)

Aneh tapi nyata, namun faktanya memang demikian. Yang satu fokus bekerja, sementara yang satu lagi fokus fitnah. Bahkan, fitnah yang mereka lakukan seperti takaran atau dosis minum obat, yakni 3 kali sehari. Tidak ada satu hari pun mereka lewatkan tanpa fitnah, celaan, serta cercaan kepada pemimpin bangsa satu ini.

Bahkan, mungkin sepanjang Republik ini berdiri, baru ada seorang pemimpin yang begitu bertubi-tubi mendapatkan fitnah dari mereka-mereka yang membencinya. Sebuah kebencian yang membutakan mereka dari kinerja positif yang sudah dilakukan oleh pemerintahan sekarang.

Jika ada sosok pemimpin yang banyak panah fitnah mengarah kepadanya, maka Jokowi orangnya. Fitnah, hoax memang tidak bisa luput dari dirinya semenjak Ia mencalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Panah fitnah tersebut lebih banyak dan mengerikan ketika Ia maju sebagai Capres pada Pilpres 2014 lalu, dan bahkan lebih dahsyat lagi ketika Ia sudah menjabat sebagai Orang Nomor 1 di negeri ini.

Tetapi, sebelum beranjak terlalu jauh, apa definisi fitnah itu sendiri ? Dalam keseharian kosakata ini menjadi biasa kita dengar, namun, definisi yang tepat perlu kita pahami agar kita mengetahui apa sesungguhnya perilaku fitnah tersebut. Disebutkan bahwa, fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Kata “fitnah” diserap dari bahasa Arab, dan pengertian aslinya adalah “cobaan” atau “ujian”. (http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/fitnah-selalu-terjadi-bagaimana-kita-menyikapinya/)

Mungkin kita ingat kasus “Obor Rakyat” ketika Pilpres 2014 lalu. Media abal-abal yang dibuat untuk hanya satu tujuan, yakni merusak nama baik Jokowi di tengah-tengah masyarakat. Mereka membuat black campaign yang sebenar-benarnya. Atau mungkin kita juga ingat buku yang belum lama ini terbit, “Jokowi Undercover.” Buku yang katanya merupakan hasil riset atau penyelidikan. Setali tiga uang dengan Obor Rakyat, Jokowi Undercover berusaha mengungkap sisi Jokowi. Sisi tersebut sudah bisa ditebak, yakni sisi yang bisa dikorek-korek, sisi negatif beserta fitnah-fitnahnya.

Lalu, apa saja fitnah yang menerpa orang nomor satu di negeri ini ? Mari kita simak dan cermati. Pertama, tentu saja tuduhan usang, yaitu bahwa Jokowi adalah pengusung PKI. Seperti diketahui, tuduhan-tuduhan usang ini merupakan warisan Orde Baru. Selama 32 tahun lebih, masyarakat kita ditakut-takuti dengan hantu komunisme. Jargon terkenal mereka adalah “bahaya laten komunisme.” Karena propaganda yang berlangsung cukup lama, maka tak mudah menghapusnya dalam benak masyarakat. Jokowi yang datang dari PDIP mau tidak mau menerima fitnah semacam ini. PDIP, partai nasionalis ini semenjak lama dicap oleh pemerintah Orde Baru sebagai pro nasionalis yang ideologinya sering dikait-kaitkan dengan komunisme. Padahal jika merujuk sejarah, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang nanti menjadi cikal-bakal PDIP memiliki perbedaan sangat jauh dan signifikan dengan tema komunisme yang diusung PKI.

Kedua, keturunan PKI. Nah, ini pun stigma yang mereka berikan kepada Jokowi. Asal-usul orang nomor satu di Indonesia ini kemudian dikorek-korek, siapakah orang tua dan lain sebagainya. Tapi, lantaran ini fitnah belaka, alias tuduhan tak berdasar, fitnah ini kemudian meredup seiring waktu. Lucunya, bahkan ada warganet atau netizen yang mendorong Presiden Jokowi untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa Beliau bukan PKI (“Gara-gara Fitnah Ini, Presiden Jokowi Diminta Tes DNA”, dalam sumsel.tribunnews.com).

Ketiga, Antek China. Jokowi PKI, keturunan PKI dan antek China sebenarnya tuduhan atau fitnah satu paket. Fitnah yang mencakup semuanya. Termasuk di dalamnya isu jutaan tenaga kerja China yang masuk ke Indonesia. Isu ini digoreng sedemikian rupa sehingga nampak kenyataan di lapangan. Padahal faktanya, tenaga kerja Indonesia di negeri China lebih banyak, ketimbang tenaga kerja China di Indonesia.

Keempat, Jokowi anti Islam. Tuduhan ini beredar semenjak lama. Fitnah ini digaungkan kembali akhir-akhir ini karena Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu Nomor 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas). Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan langkah Jokowi yang anti Islam, kata mereka. Mereka –para haters- lupa, bahwa di negara-negara Islam sendiri, kehadiran HTI dilarang dan sudah dibubarkan. Mereka lupa, organisasi massa terbesar Islam, seperti NU dan Banser-nya justru mendukung penuh langkah pemerintah. Begitu pula dengan Buya Syafii Maarif, tokoh senior Muhammadiyah, dan bahkan Majelis Ulama Indonesia mendukung langkah pemerintah Jokowi ini.

Kelima, Jokowi dan pemerintahannya dituduh mengkriminalisasi ulama. Tuduhan ini terkait dijadikannya tersangka beberapa ulama, semisal Habib Rizieq Shihab, Munarman atau Alfian Tanjung. Padahal di mata hukum, tidak ada pembedaan atau pemilahan apakah seseorang tersebut pemuka agama, pejabat atau rakyat biasa. Semuanya sama di mata hukum. Maka, apabila ada kasus yang melibatkan para pemuka agama –sebut saja ulama- tidak boleh dipukul rata bahwa pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan upaya kriminalisasi. Di belakang Presiden Jokowi banyak ulama-ulama yang mendukung sepak terjang pemerintah. Sebut saja, KH.Aqil Siradj, Buya Syafii Maarif, Quraish Shihab, Gus Mus dan lainnya. Mereka juga ulama, bahkan bukan ulama sembarangan.

Keenam, nah tuduhan ini lebih dahsyat lagi. Disebutkan bahwa Jokowi bukan seorang muslim. Faktanya, Presiden Jokowi sendiri mengatakan, “Saya Jokowi, Bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin.” “Semua orang boleh ragu dengan agama saya, tapi saya tidak ragu dengan iman dan imam saya dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agama saya,” ujarnya.

Jokowi juga mengatakan dirinya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam. Dia pun menyatakan bukan bagian dari yang mengaku Islam, tetapi suka menebar teror dan kebencian (kompas.com).

Dengan serangan fitnah yang bertubi-tubi hingga sekarang, bagaimana dengan penilaian masyarakat akan Jokowi selama ini ? seperti dilansir laman kompas.com, berbagai politik fitnah yang selama ini menyerang Presiden Joko Widodo dinilai tidak efektif untuk menurunkan elektabilitas orang nomor satu di Indonesia itu.

Hasil survei terakhir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan Jokowi masih menjadi tokoh paling populer untuk menjadi Presiden dengan 53,7 persen. Saingan terberat Jokowi, Prabowo, hanya mendapat suara 37,2 persen. Responden yang mengaku puas dengan kinerja Jokowi mencapai 67 persen.

Masih dilansir dari laman kompas.com, Oleh karena fitnah-fitnah itu, Jokowi mewanti-wanti para elite politik yang berada di balik serangan itu untuk lebih beradab dalam berpolitik.

“Akan sangat berbahaya kalau elite-elite kita memberikan pembelajaran- pembelajaran yang kurang baik dengan cara seperti itu, menyebarkan SARA dan menyebarkan fitnah,” ujar Jokowi. “Kita mengajak semuanya untuk membangun sebuah peradaban politik yang baik, peradaban politik santun, peradaban politik yang berkeadaban sehingga masyarakat akan mengikuti itu,” lanjut dia (Akhmad Reza/kompas.com).
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved