Negara Harus Cari Akar Ekstrimisme Tolikara Papua INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Negara Harus Cari Akar Ekstrimisme Tolikara Papua

Negara Harus Cari Akar Ekstrimisme Tolikara Papua

Ditulis Oleh redaksi Sabtu, 18 Juli 2015 | 12.01

Dialog Jokowi dengan Masyarakat Papua yang ke tiga, diadakan Barisan Relawan Jokowi Presiden (BaraJP) di GOR Jayapura Desember 2014. Dalam kesempatan itu, Jokowi menyatakan akan datang ke Papua tiga kali dalam setahun. (Ist) 
JAKARTA - INDEPNEWS.Com : Negara harus hadir dalam peristiwa di Tolikara Papua, dengan mencari akar masalah mengapa sebagian pendeta Gereja Injil di Indonesia (GIDI) menjadi ekstrim.
            
"Mereka bukan hanya menyerang pemeluk agama lain, tetapi juga menolak denominasi/organisasi Kristen lain untuk mendirikan gereja di Tolikara. Ini ekstrimisme," kata Sihol Manullang, Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi Presiden (BaraJP) di Jakarta Sabtu (18/7).
            
Perilaku yang membatasi pemeluk agama menunaikan ibadah, jelas melanggar kebebasan beragama, tidak bisa dibenarkan di NKRI. Maka solusi bukan sekedar pendekatan keamanan, tetapi juga terapi sosiologis.
            
"Negara harus menyadarkan kalangan ekstrim di Tolikara, agama membawa misi agar hidup dengan benar. Jika agama dijalankan dengan benar, otomatis masuk surga," jelas Sihol.
            
Menurut pengamatan Sihol, di Papua ada kesadaran sebagian elit, peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kehadiran gereja. Sebab memang, sekolah yang didirikan gereja lebih banyak dari yang didirikan negara.
            
Demikian juga dengan pembangunan masyarakat, jangkauan gereja lebih luas dari jangkauan negara. "Sekarang mereka menjadi ekstrim, mengapa?" ia bertanya.
            
Mencari akar masalah, membuat BaraJP sudah tiga kali mengadakan dialog Jokowi dengan tokoh masyarakat Papua. Terakhir, Desember 2014 di Jayapura. "Kita selalu hanya memberi perhatian ketika terjadi gejolak."
            
Media massa pers, menurut Sihol juga perlu berperan positif, yaitu dengan meliput proses. "Ada aliran dalam jurnalistik, meliput proses. Meliput situasi yang bisa menjadi kebakaran, bukan hanya meliput peristiwa kebakaran," pungkasnya. (dd)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved