Menguak Lokasi Pertemuan Bung Karno dan Nyi Roro Kidul INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Menguak Lokasi Pertemuan Bung Karno dan Nyi Roro Kidul

Menguak Lokasi Pertemuan Bung Karno dan Nyi Roro Kidul

Ditulis Oleh redaksi Sabtu, 11 April 2015 | 12.49

Wali songo dan Pangeran Diponegoro diyakini pernah ke tempat ini (Viva)
DEPOK - INDEPNEWS.Com : Selain kaya akan peninggalan jejak-jejak kejayaan Belanda di masa lalu, Kota Depok juga banyak ditemukan situs-situs bersejarah yang sampai saat ini keberadaan-nya masih lestrasi dan dikeramatkan oleh warga sekitar.
   
Salah satunya adalah petilasan Mbah Wujud Beji, sebuah tempat yang konon dipercaya sebagai lokasi petilasan sejumlah tokoh sakti. Mereka di antaranya ialah beberapa Wali Songo (penyebar agama Islam di tanah Jawa) hingga mantan Presiden pertama RI, Soekarno.
    
Petilasan Mbah Wujud Beji berada di tengah komplek perumahan, tepatnya di Jalan Depok Utara, Beji Depok.

Lokasinya, berada persis di atas bukit dekat Masjid Nurulsalam. Berbeda dengan kebanyakan tempat angker, nuansa magis di petilasan ini terasa begitu kental.
   
Aroma mistik pun semakin diperkuat dengan adanya sejumlah senjata yang dikeramatkan di dalam sebuah pohon beringin berukuran yang begitu besar. Disekeliling benda-benda pusaka itu, banyak terdapat sesajen dan dupa.

Aroma wangi kemenyan, ketika memasuki ruangan gelap ini, semakin membuat aura mistik kian kuat.
   
Tidak sembarang orang bisa melihat langsung senjata-senjata tersebut. Jika ingin melihatnya, maka sang juru kunci akan meminta anda untuk mensucikan diri terlebih dahulu di salah satu sumur yang juga dikerematkan.
 
Lokasi sumur itu hanya beberapa ratus meter dari sebuah pendopo yang menutupi sebagian batang tubuh pohon beringin tersebut.
    
Mbah Martonakin, generasi ke delapan penjaga petilasan ini mengatakan, Mbah Wujud Beji adalah nama yang diberikan untuk petilasan (tempat bersemedi). Jadi, nama tersebut bukan mewakili seorang tokoh.
   
"Ini adalah pusat petilasan, tempat kumpul. Nama tersebut adalah gambaran. Batin (hati) dengan Ilmu yg tersirat. semua pendekar dan tokoh zaman dulu, termasuk pak Soekarno pada masa hidupnya bertapa di sini. Untuk menghening mencari ketenangan batin," kata pria berusia lebih dari 65 tahun, Sabtu 11 April 2015.
    
Biasanya, menurut mata batin yang dimiliki Martonakin, para pendekar dan tokoh zaman kerajaan dahulu akan berkumpul disini untuk membersihkan diri. Selain dari itu, banyak dari mereka menjadikan tempat ini untuk bertukar pikiran dan menguji kekuatan.
    
"Petilasan yang disampaikan untuk pituah (petuah). Yang bicara hati. Tirakad kalaton, membersihkan diri. Jika kamu percaya, maka silahkan dicoba. Kalau kamu nanya saya siapa saja yang pernah melakukan petilasan disini? Maka saya akan jawab hampir semua tokoh sakti berkumpul disini," ujarnya.
   
"Temasuk, Sunan Kalijaga, Pangeran Diponegoro hingga Ratu Pantai Selatan. Tapi ya itu tadi, semua tidak bisa dipikirkan dengan akal logika. Ini semua ghoib. Tergantung kamu mau percaya tau tidak. Ini soal keyakinan," jelas Martonakin sambil menghisap dalam-dalam rokok kreteknya.
    
Penasaran dengan apa yang ada dibalik pendopo di bawah pohon beringin, VIVApun akhirnya menyanggupi syarat yang diajukan Mbah Martono (biasa ia disapa). Syarat itu ialah, mensucikan diri dengan menggunakan air dari sumur ke tujuh, yang lokasinya berada di bawah area kramat tersebut.
   
Setelah itu sang juru kunci menuju ruang berukuran 2 x 5 meter yang merupakan area penyimpanan senjata pun akhirnya dibuka. Saat pintu terbuka, aura dan kesan mistik yang terasa kali ini berkali-kali lipat. Ada dua lapis pintu untuk menuju penyimpanan benda-benda sakral tersebut.
   
Posisi senjata-senjata seperti keris, tombak, batu-batu, dan pedang itu, disandarkan pada batang pohon beringin besar yang telah dipagari dan didepannya terdapat begitu banyak sesaji, baik berupa makanan, buah, bunga hingga beragam minuman soda. Semuanya masih tampak utuh.
    
Ketika masuk ke tempat ini, Mbah Martono melakukan ritual khusus dengan menggunakan sesaji. Setelah ritual selesai dilakukan, kakek dengan belasan cucu ini pun mempersilahkan VIVA untuk mengambil gambar.
   
"Saya hanya berpesan, ini adalah warisan budaya leluhur. Tugas kitalah untuk menjaga dan melestarikannya. Saya tidak perlu membahas peran pemerintah. Karena memang tidak ada. Mereka tidak peduli dengan keberadaan tempat ini," kata Mbah Martono.
    
Ya, meski usianya telah senja, namun semangat dan kegigihannya untuk merawat tempat ini tak perlu diragukan lagi. Bahkan, pria yang masih tampak tegap diusianya yang telah lanjut itu tak pernah mengharap imbalan atas jasa-jasanya ini.
   
Semua dijalaninya dengan ikhlas. Hanya satu yang diharapkan Mbah Martono, tempat petilasan itu dijadikan cagar budaya. (Bayu Adi Wicaksono/viva/inc)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved