Imam Masjid New York Dukung Jokowi-JK INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Imam Masjid New York Dukung Jokowi-JK

Imam Masjid New York Dukung Jokowi-JK

Ditulis Oleh redaksi Kamis, 12 Juni 2014 | 18.18

Shamsi Ali, Imam Islamic Center New York, AS 
NEW YORK - INDEPNEWS.Com : Imam Islamic Center New York, AS, Shamsi Ali mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut dua: Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Salah satu tokoh Islam dari Indonesia itu mantap mendukung Jokowi-JK dalam Pemilihan Presiden 2014 setelah menentukan pilihan berdasarkan ijtihad politik dan arahan hati nuraninya.

Berdasarkan nurani dan ijtihad politiknya, pasangan Jokowi-JK terbaik dari yang ada. Tokoh yang dinobatkan sebagai satu dari tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di New York oleh New York Magazine (2006) itu menyatakan dukungannya ke pasangan itu di grup Facebook miliknya, Imam Shamsi Ali, yang ia unggah pada 2 Juni 2014 lalu.

Shamsi menyadari keputusannya itu tak menyenangkan sebagian pihak. Pasalnya, ijtihad politiknya itu bertentangan dengan pilihan arus utama partai-partai berbasis Islam yang mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Alih-alih mengubah pilihannya, tokoh yang aktif dalam upaya membangun dialog dan kerjasama antarumat beragama di AS itu lebih mantap dengan ijtihad politiknya.

Menurutnya, perbedaan ijtihad politik tak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi keimanan atau keislaman seseorang. Penilaian itu bukan hanya sempit, tapi juga sangat tak bijak. Imannya tetap kukuh dan komitmennya pada Islam pun tak luntur walau berbeda pilihan politik.

Menentukan pilihan hidup, termasuk politik, tambah Shamsi, semestinya didasarkan pada pilihan nurani yang independen. “Pilihan saya menjadi seorang muslim, bahkan menghabiskan umur dalam perjuangan di jalan dakwah juga karena pilihan independen,” kata Shamsi.

Empat Alasan
Ada sejumlah alasan mengapa Shamsi mendukung Jokowi-JK. Dari tujuh alasan, empat di antaranya penting dan menarik untuk dielaborasi di sini. Pertama, dalam menyelesaikan berbagai masalah, Shamsi menilai, Jokowi lebih mengedepankan pendekatan kemanusiaan yang berorientasi kerakyatan dan bersifat humanis. Contohnya, saat Jokowi memindahkan pedagang kaki lima (PKL) dari tempat lama ke fasilitas baru yang dibangun Pemerintah Kota Solo.

Shamsi mengakui, bukanlah perkara mudah untuk memindahkan para pedagang dari pasar yang sudah puluhan tahun ke pasar baru, walaupun fasilitasnya lebih bagus. Apalagi jika tak ada jaminan bahwa para pedagang bakal mendapatkan pemasukan lebih baik di pasar yang baru. Tapi Jokowi berhasil meyakinkan dan memindahkan mereka dengan pendekatan yang sederhana dan manusiawi.

JK pun, tambahnya, tak kalah hebat. Semasa menjabat sebagai wakil presiden, JK mampu menyelesaikan beberapa konflik sosial. Yang paling berat tentu konflik berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Tapi dengan kelihaian dan kecekatan dan pendekatan yang non-militeristik, JK berhasil menyelesaikan perdamaian di Maluku dan Poso. Termasuk konflik di Aceh yang menelan ribuan nyawa.

Semua ini membuktikan bahwa dalam dunia yang makin global diperlukan pendekatan-pendekatan alternatif dalam menyelesaikan permasalahan di Indonesia dan dunia. Amerika saja, ungkapnya, masih memakai ‘otot’ (senjata) dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

“Semoga Jokowi-JK nanti bisa memberi masukan pada dunia bagaimana menyelesaikan permasalahan-permasalahan kekerasan dunia dengan cara-cara yang lebih manusiawi,” harap Shamsi.

Kedua, ekonomi berorientasi kerakyatan. Jokowi dan JK tidak menjadikan isu itu hanya sebagai slogan politik. Keduanya sudah membuktikan bahwa program ekonomi yang diperlukan Indonesia ke depan adalah ekonomi yang berorientasi kerakyatan.

Indonesia memang perlu kuat dan mampu bersaing dengan negara-negara lainnya. Tapi, lanjutnya, keinginan untuk menjadi negara besar dalam perekonomian kadangkala justru membuat rakyat terlupakan. Ujungnya, kekayaan itu hanya dinikmati segelintir elite atas nama semua masyarakat.

Karena itu, Shamsi sangat tertarik dengan konsep pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan pasar tradisional yang dikemukakan Jokowi-JK. Dengan membangun dan memberdayaan pasar tradisional, tambahnya, rakyat bisa langsung memasarkan produk mereka tanpa melalui cukong yang biasanya menghisap ‘darah’ orang-orang miskin.

“Dengan itu diharapkan masyarakat termotivasi untuk melakukan aktivitas ekonomi yang berorientasi pada pembangunan dan permberdayaan perekonomian mereka sendiri,” tuturnya.

Ketiga, penekanan pada membangun manusia. Inti dari semua program yang dicanangkan Jokowi-JK adalah membangun mental positif manusia. Berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini, katanya, bermula dari kebobrokan mental manusia.

Shamsi memberikan ilustrasi bagaimana ia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari petugas bandara Indonesia. “Ketika check in, saya selalu dicuekkin. Tapi ketika mengatakan bahwa saya mau ke AS, dan bahkan sudah tinggal di AS hampir 20 tahun, cara pelayanan berubah drastis. Seolah Amerikalah yang menjadikan saya mulia dan terhormat,” kritiknya.

Apalagi kalau berbicara tentang korupsi yang merajalela. Korupsi terbesar, tambahnya, justru dilakukan orang-orang yang sudah berharta dan bertahta. Masalahnya adalah mental mereka. Berapapun angkanya, bagi mereka takkan pernah cukup.

Shamsi melihat pendekatan Jokowi-JK sangat imbang. Selain penguatan ekonomi rakyat dan pembagian kue negara secara rata, mereka melandaskannya pada hal terpenting yang dibangun di atas mental cukup diri (qana’ah).

Bagi Shamsi, Jokowi-JK membuktikan bahwa kekayaan bukan alat untuk membedakan diri dari orang lain. Kekayaan yang mereka miliki tak untuk membangun istana besar dengan kuda-kuda piaraan serta koleksi mobil-mobil mewah sebagai hiasannya. Kekayaan justru amanah yang harus digunakan secara proporsional dan dalam batas-batas yang wajar.

Keempat, manajemen yang berorientasi pada pemecahan masalah. Sebagai penceramah yang biasa khutbah, Shamsi mengakui kemampuan Jokowi dalam berpidato tak terlalu baik. Tapi itu tak berarti Jokowi tak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan besar. Menyelesaikan permasalahan itu tak selalu mengandalkan kemampuan berbicara. Dan itu sudah dibuktikan Jokowi.

Sama dengan Jokowi, JK juga tipikal orang yang berbicara sedikit dan apa adanya. JK tak diplomatis dalam menyampaikan ide atau menyampaikan konsep yang muluk-muluk. Yang terpenting bagi keduanya adalah bagaimana mengeksekusi program-program yang sudah dicanangkan.

Ambassador of Peace
Bagi yang mengenal Shamsi, dukungannya  pada Jokowi-JK itu bisa dipahami. Salah satunya pemilik akun Nisa Felicia Faridz yang berkomentar atas dukungan Shamsi di grup Facebook itu. “Saya percaya pengalaman Ust. Shamsi Ali membuatnya peka pada hak-hak minoritas, pada pahitnya stereotip dan prasangka buruk, dan pada pentingnya mendahulukan kebutuhan bangsa Indonesia daripada mempermasalahkan identitas dan personality (wilayah pribadi) calon pemimpinnya,” tulisnya.  

Sebelum mendarat di AS pada 1996, Shamsi adalah alumni International Islamic University, Islamabad, Pakistan dan sempat bergabung dengan Jamaah Tabligh, satu gerakan dakwah transnasional yang cenderung konservatif.

Tokoh Ambassador of Peace dari International Religious Federation itu mendapat kesempatan berdakwah di AS pada usia 29 tahun. Waktu itu ia diminta Duta Besar Indonesia untuk PBB membangun dan mengelola masjid yang menjadi pusat peribadatan warga berkebangsaan Indonesia di Kota New York.

Sudah lebih dari satu dekade Shamsi menjadi imam di masjid terbesar dan tertua di Kota New York itu. Di sanalah Shamsi menyampaikan khutbah tentang nilai-nilai demokrasi dan mengecam ekstremisme di hadapan ribuan jamaah.

Di luar masjid, Ketua Yayasan Masjid Al Hikmah di New York itu menjalin hubungan dengan berbagai pihak. Di kalangan muslim sendiri, ia berhasil menengahi ketegangan di antara tiga kelompok muslim yang terbesar di Kota New York, yaitu Afro-America, Arab, dan kontinental. Atas keberhasilannya itu, ia terpilih menjadi salah satu anggota dewan para Imam di kota New York.

Shamsi juga membina hubungan yang baik dengan umat agama lain. Ia rajin melakukan kunjungan ke berbagai gereja dan sinagog yang ada di Kota New York. Shamsi bahkan diminta menjadi anggota tim rekonsiliasi saat terjadi bentrokan antara komunitas Yahudi dan Arab di Brooklyn, New York.

Shamsi mengakui, membangun kerjasama dengan kelompok masyarakat lain di AS itu tak mudah. Ketakuan terhadap Islam (Islamophobia), khususnya pasca serangan teroris 11 September, kadung melekat kuat di tengah masyarakat AS. Namun, penyuka musik Rap dan Hip-hop itu punya cara tersendiri untuk menghadapinya.

Dengan bekal hubungan baik dan kerjasama yang sudah lama terjalin dengan umat agama lain di AS, banyak pemimpin agama non-muslim, termasuk pemuka Yahudi, yang bersedia menjadi juru bicara bagi komunitas muslim untuk menetralisir Islamophobia warga AS. Berkat kontribusinya yang luar biasa di AS, kisah kehidupan Shamsi dimuat dalam buku Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang pada 2012 lalu.

Sebelum dukungan Shamsi ini, Jokowi mendapat apresiasi dari Walikota Rotterdam, Belanda, yang beragama Islam, Ahmed Aboutaleb. Pria keturunan Maroko ini mengatakan, Jokowi menjadi inspirasi banyak orang. Jokowi sangat peduli dan kerja untuk melayani rakyatnya. Sosoknya sederhana, tapi sangat visioner, dan demokratis.

"Dia (Jokowi) mirip seperti Mahatma Gandhi di India,” ujarnya. ***[indonesia-2014.com/IA]
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved