Emansipasi Wanita dan Religiusitas Pematung Purjito INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Emansipasi Wanita dan Religiusitas Pematung Purjito

Emansipasi Wanita dan Religiusitas Pematung Purjito

Ditulis Oleh redaksi Rabu, 06 November 2013 | 22.00

Pematung Purjito dengan latar belakang sejumlah patung karyanya. (Foto : Zaenal Huda) 



JOGJA - INDEPNEWS.Com : Sungguh ini adalah sebuah perjalanan ‘spiritual’ yang luar biasa dari seorang pematung yang bernama Purjito (52). Lelaki sederhana yang kini masih saja menyibukkan diri dengan banyak membuat karya, meski jauh dari hingar bingar gebalau pemberitaan media massa tentang carut marut kondisi negeri ini. Ya rumah Purjito memang persis di pinggir jalan. Persisnya di Kranggan Baru Berbah Sleman Yogyakarta. Namun suasana pedesaan langsung menyergap, saat kaki ini menapaki sebuah tanah kosong yang luas penuh dengan pepohonan yang justru menjadi pintu gerbang memasuki rumahnya.


Memasuki rumahnya yang belum selesai dibangun, begitu katanya, banyak disambut figur-figur patung seukuran manusia serta dinding rumah yang penuh dengan relief. Patung-patung itu ada yang sudah jadi, namun ada pula yang tinggal finishing. Secara garis besar banyak bertemakan wanita.

Patung Purjito berjudul"Merenung".(2013)
  (Foto: Zaenal Huda)

Belum lagi puas menatapi detil patung dengan gestur tubuh yang sempurna, karya-karya lukis Purjito, juga sangatlah menggelitik untuk disimak. Betapa tidak, nampak disanalah lelaki itu menumpahkan segala kasih sayangnya terhadap orang-orang terdekatnya, seperti istri serta ketiga anaknya. Karena, lukisan-lukisan itu banyak mengambil model orang-orang yang dicintainya. Dan benar, merekalah spirit Purjito selama berkarya.

Kembali ke persolan patung-patung Purjito, yang konon katanya berjumlah lebih dari seratus. Lelaki yang pernah dipanggil teman-temannya sebagai ‘seniman proyek’, lantaran selama ini memang banyak mengerjakan patung-patung pesanan instansi swasta maupun pemerintah itu, ternyata justru menyimpan sesuatu yang dalam atas pengamatannya terhadap wanita. Wanita menurut Purjito, adalah sosok yang sangat penting. “Kita ada karena seorang wanita, yakni ibu,” katanya.

“Wanita adalah sosok yang sangatlah komplek. Apalagi kalau kita membahas masalah peran wanita, bagaimana kariernya. Disitu ternyata banyak sekali hal yang bisa dikupas. Oleh karena itu, maka dalam periode karya-karya patung saya saat ini, banyak bertemakan wanita,” ujar dia.


Namun dalam perkembangannya lanjut dia, saat ini banyak mengalami pergeseran luar biasa tentang wanita itu. Mulai dari yang semula hanya mengurus anak alias ibu rumah tangga sampai menjadi kepala sebuah perusahaan, memimpin salah satu BUMN, memimpin partai dan lain sebagainya. “Dan dalam periode karya-karya patung ini, saya memang ingin menyoroti sosok wanita yang sangat komplek itu.”



Patung Purjito berjudul "Dakon" (2009) (Foto: Zaenal Huda)
Ambil contoh karya relief Purjito yang banyak mengupas tradisi wanita masa lalu. Penggambaran wanita yang tengah memijat atau pijet, dengan busana kemben. Juga karya relief para wanita yang tengah menumbuk padi alias nutu pari. Menggambarkan bagaimana wanita memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan ini.

Belum lagi, sosok patung separuh badan yang wajahnya mirip dengan mantan Deputi Bank Indonesia Miranda Swaray Gultom. Meski Purjito mengelak patung itu mirip Miranda yang kini menjadi tahanan KPK, namun saat ditanya judul patung tersebut, dengan cepat dia menjawab, “Emansipasi yang sedang sakit.”

Patung setengah badan itu, memang mirip Miranda. Dan emansipasi yang saat ini terjadi, memang tengah mengalami pergeseran. Bahkan kalau boleh menyebut, justru telah kebablasen. Barangkali ini adalah salah satu kecerdasan Purjito, yang berhasil membidik persoalan sosial yang terjadi di negeri ini melalui karya-karya patungnya.

Ada lagi sosok patung Purjito yang berjudul “Dakon” (2009) dan “Merenung” (2013). Dakon dalam masyarakat Jawa adalah sebuah permainan mengadu nasib yang dihitung melalui jumlah biji-bijian yang dimasukkan ke dalam papan yang berlobang. Ada pertaruhan nasib di sana. Yang dihitung dengan jumlah biji-bijian yang dimasukkan ke dalam lobang. Jika bernasib baik maka biji-biji itu akan menunjukkan jumlah yang banyak dan sebaliknya. Maka biji-bijian itu akan berjumlah sedikit.


Patung Purjito berjudul "Bersandar di pintu" (Foto: Zaenal Huda)
Sedangkan untuk patung merenung yang konon modelnya istrinya sendiri, adalah sebuah penggambaran yang memang perlu kita lakukan untuk menapaki kehidupan ini. Merenung, bisa sebuah kontemplasi hingga ke arah persoalan mawas diri. Sehingga bisa menuntun kita ke arah kejernihan berpikir lantaran selalu mencoba mendekat ke arah Illahi yang memiliki sifat Rahman dan Rahim.

Agaknya inilah yang menjadi muara sebagian besar karya-karya Purjito, sebuah sikap penghormatan terhadap wanita dan religiusitas yang jujur lewat karya-karya patung serta lukisannya. Bagaimana menghormati serta menempatkan seorang wanita pada posisi yang semestinya. Purjito tak perlu memakai bahasa simbol. Namun banyak karya patung serta lukisannya, justru menegaskan bagaimana dia berusaha mendekat kepada Yang Maha Mencipta dengan bahasa ungkapnya sendiri. (Zaenal Huda)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved