Suasana Idul Adha di Masjid Al-Mahghfiroh INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Suasana Idul Adha di Masjid Al-Mahghfiroh

Suasana Idul Adha di Masjid Al-Mahghfiroh

Ditulis Oleh redaksi Selasa, 15 Oktober 2013 | 16.23

Terlihat suasana perayaan Iedil Qurban saat para bapak dan pemuda sedang mengiris daging kurban di halaman masjid Al Maghfiroh [Jak] 
SUKOHARJO - INDEPNEWS.Com : Idul adha yang biasa disebut hari raya kurban merupakan hari yang spesial dan bersejarah bagi umat islam di seluruh dunia. Semua menyambut dengan rasa suka cita sebagaimana kita lihat di berbagai penjuru baik dari kota hingga di pelosok desa, semua terlibat dalam menyambut datangnya hari kurban. Banyak nilai religi yang ditinggalkan dari kisah Nabi Ibrahim As, sebagaimana telah disebutkan dalam Kitab Suci Alquran.

Ibu-ibu memotong daging kurban untuk dibagikan [Jak] 
Artinya, di dalam merayakan hari raya Idul Adha kita tidak hanya sekedar berkorban, namun lebih dari itu kita dituntut untuk belajar bersabar, juga dituntut berlatih untuk belajar iklhas sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim As bersama istrinya ketika diuji Tuhannya dalam penantian untuk memperoleh seorang anak  hingga ratusan tahun lamanya.

Setelah sekian lama menunggu, lahirlah seorang anak laki-laki tampan bernama Ismail. Ujianpun belum berakhir sampai disitu Nabi Ibrahim As harus meninggalkan istri dalam waktu yang lama demi menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra satu-satunya yang dicintainya. 

Allah dengan kuasaNya memerintahkan Malaikat untuk mengganti seekor binatang untuk disembelih, maka Ismailpun selamat. Dari kisah itulah mestinya kita bisa mengambil keteladanan dalam menyikapi sesuatu agar lebih bisa bersabar dan iklhas.

Berbagai pemandangan terlihat menyenangkan dimana-mana sebagaimana yang terjadi di masjid Al-Maghfiroh Banmati begitu semarak. Baik anak-anak, orang tua ataupun muda juga ibu-ibu semua bergabung menyatu dengan tugasnya masing-masing.

Ada sedikit kisah menarik dari masjid Al-Maghfiroh terkait dengan keberadaan guru TPA bernama Miftah yang hafal Al-Quran 30 Just. Disamping suaranya yang merdu juga sangat sabar cara mengajarnya. Maka tidaklah heran jika banyak anak-anak yang begitu bersemangat untuk belajar Al-quran.

Ada sekitar ratusan murid yang telah diwisuda karena hampir sepuluh tahun lebih TPA tersebut berdiri. Saat pertama kali mengajar sang guru masih berusia muda dan masih duduk dibangku sekolah. Dia berasal dari sebuah desa kecil dari bagian wilayah kota santri Demak.

Keberadaan masjid tersebut tak pernah sepi dari para jamaah terutama di siang hari penuh dengan anak-anak TPA kecuali pada hari jumat dan minggu sengaja diliburkan. Dukungan masyarakat setempat sangat luar biasa terkait dengan segala kegiatan yang ada di masid.

Semua ini bisa berjalan lancar tentunya tidak terlepas dari peran takmir masjid itu sendiri. Untuk setiap hari kamis malam rutin diadakan pengajian di masjid yang dihadiri oleh para jamaah setempat. Pada hari-hari tertentu ada pengajian di luar masjid yaitu di rumah warga secara bergantian.

Melihat kenyataan yang ada tentunya ini bisa menjadikan motifasi tersendiri dalam mengelola sebuah tempat ibadah yang tidak hanya sebatas bagaimana bisa mengajarkan sholat ataupun mengaji semata namun lebih dari itu bagaimana mengajarkan Sesutu yang bisa memberikan kontribusi dan nilai manfaat bagi masyarakat di sekitarnya agar bisa hidup secara berdampingan. (Joko Suprapto)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved